Wednesday, 4 August 2021

Menguak Dapur Penerbit Mayor


 Oleh : Risa Juanita Ratnaningtyas

"Seseorang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapannya, tetapi hebat dalam tindakannya"
(~Kata Bijak~)


Alhamdulillah, malam ini begitu tenang dan cerah, bintang-bintang dilangit tak lagi malu-malu menampakkan dirinya

Seakan mendukung dan memacu semangat untuk mengikuti pelatihan belajar menulis malam ini

Dengan mengangkat tema "Menguak Dapur Penerbit Mayor" materi kali ini semakin menakjubkan bagi saya penulis pemula. 

Penerbit mayor adalah penerbit besar, di dukung SDM yang besar dan mumpuni, sangat butuh perjuangan agar karya kita bisa tembus kesana

Alangkah bahagianya andaikan karya kita dapat tembus di penerbit mayor 
Tapi bagaimana caranya? Itulah pertanyaan yang acapkali terlontar dari sang penulis pemula yang masih buta pengetahuan tentang penerbit mayor

Pelatihan malam ini di moderatori oleh Ibu Sri Sugiastuti atau yang akrab disapa Bu Kanjeng, dengan narasumber yang kharismatik yaitu Bapak Edi Mulyanta S.Si, M.T

Pria kelahiran Yogyakarta, 24 Mei 1969 tersebut memulai karirnya sebagai penulis lepas dan hidup dari buku, hingga akhirnya terjun ke dunia penerbitan sejak tahun 2001. Genap 20 tahun dalam bidang produksi buku.
Dan berperan di Publishing Consultant Andi Publisher mulai tahun 2020 hingga saat ini

Bisakah hidup dari menulis Buku?

Di era millenial seperti sekarang, hidup dari menulis bukanlah tidak mungkin. 

Semakin berkembangnya semangat literasi dan semakin menjamurnya aplikasi-aplikasi menulis yang mendukung penulis untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah, baik dari aplikasi maupun buku

Di dukung terbitnya UU no. 03 tahun 2013 (mengatur detail tentang proses industri penerbitan dan unsur-unsur di dalamnya) dan PP no. 75 tahun 2019 sebagai penyempurna mengatur proses membuat naskah sampai dengan menyebar luaskannya.

Ada 2 kategori penerbit di Indonesia ;
  • Penerbit mayor, yang mencetak dalam jumlah besar
  • Penerbit Minor / Indie yang akan mencetak sesuai jumlah pesanan.
Sebagai sesama penerbit, masing-masing dituntut oleh Kemdikbud DIKTI untuk dapat menerbitkan buku berskala nasional. 

Bagi penerbit mayor tentunya hal itu bukanlah permasalahan serius karena penerbit mayor sudah terbiasa mencetak dalam skala besar, makantidak sulit untuk dapat menjangkau skala nasional dengan memasarkan ke berbagai outlet buku atau toko dipenjuru tanah air

Apakah permasalahan yang signifikan bagi penerbit mayor?

Munculnya pandemi Covid-19 membawa dampak perubahan yang sangat besar bagi penerbit mayor. Benar-benar merubah zona nyaman menjadi zona yang carut marut

Bagaimana tidak, selama masa pandemi dengan adanya pemberlakuan PPKM dan PSBB membuat penjualan buku menurun drastis. 

Toko buku banyak yang gulung tikar, pengunjung outlet buku hanya sedikit karena pandemi dan berbagai kendala lainnya akhirnya omzet pun terjun bebas.

Mau tak mau, penerbit mayor pun ikut terdampak, terutama di pengolahan naskah, mulai dari editorial, setting perwajahan hingga produksi cetak 

Lalu Bagaimana mengatasi permasalah tersebut?
Yang pertama dan utama adalah 
  • Perubahan strategi marketing (Online dan Offline)
  • Menerima tema yang up to date atau kekinian untuk menarik minat pasar
  • Selama pandemi penerbit mayor bisa mencetak naskah mulai 10 hingga 300 ekslempar


Buku digital oleh PT. Andi bisa dilihat di Buku Digital bisa jadi inspirasi untuk kita penulis pemula yang siap merambah dunia digital.

Solusi atau tips dan trik agar tulisan kita cepat terbit?

Sesuai arahan PP75 kita bisa melakukan editing mandiri untuk mempercepat prosesnya

Perevisian dan penyuntingan naskah juga dilakukan secara mandiri

Editing penerbit berada di pasal 27

Syarat utama agar naskah bisa tembus ke penerbit mayor 
  • Tema atau tulisan harus unik, baik dan menarik
  • Jumlah halaman 75-150
  • Ukuran A4
  • 1,5 Times New Roman
  • Size 12
  • Royalti penulis adalah 10% dari harga buku yang diterbitkan dan akan dibayarkan setiap 6 bulan setelah tanggal terbit dan hingga buku habis

Kekurangan penerbit mayor adalah terlalu banyak naskah yang masuk sehingga waktu seleksi dan penerbitan harus melalui proses antrian

Mulai dari penilaian, editing wajah, cover sampai selesai bisa memakan waktu hingga 1 sampai dengan 2 bulan

Kesimpulannya :
Penerbit mayor meskipun selama pandemi mau mencetak dalam skala kecil, tapi semua naskah tetap melalui proses seleksi
Memperluas penyebaran buku digital

Pandemi adalah masalah, tapi keluar dari masalah adalah hal terpenting, buku cetak berkurang masih ada buku digital yang siap terbang melanglang buana, menebar manfaat dan menebar ilmu

"Teruslah menulis, jangan pernah menyerah, bulatkan niat, luruskan tekat"
(~Risa~)


Resume ke :11
Pelatihan Ke :11
Tanggal : 4 Agustus 2021
Narasumber: Bapak Edi Mulyanta S.si, M.T
Moderator : Bu Sri Sugiastuti / Bu Kanjeng

Strategi Jitu Pemasaran Buku

 


Oleh: Risa Juanita Ratnaningtyas

"Masa depan adalah milik mereka yang menyiapkan hari ini"

(~Kata Bijak~)

Malam ini hujan deras tiada henti, mulai dari tadi malam, hingga bertemu malam, tak kunjung reda 

Namun semangat tetap membara, tentu karena materinya membangkitkan semangat semakin menyala 

Kusiapkan secangkir teh hangat sebagai amunisi yang menemani perjalanan menimba ilmu malam ini. 

Selalu antusias mengikuti pelatihan belajar menulis bersama PGRI dan bersama Om Jay, segala hal yang menjadi pertanyaan penulis pemula selalu dikupas tuntas sampai jelas.  

Pak Agus Subardana, S.E, M.M beliau adalah Direktur Marketing Penerbit Mayor  Andi Yogyakarta atau PT. Andi Offset

Tujuh belas tahun sudah beliau menjadi bagian PT. Andi Offset

Lulusan S1 dan S2 Pemasaran menunjukkan bahwa beliau memang mumpuni di bidang marketing

Saat kita sudah menjadi penulis yang berhasil menerbitkan buku, muncul sejuta tanya lagi dalam angan, 

Setelah buku di cetak, diterbitkan, lalu di apakan buku kita? 

Di jualkah? 

Atau hanya ditumpuk saja?  

atau kita bagikan ke handai taulan?

Selain pendidikan, dan sektor ekonomi, dunia industri penerbitan buku juga mengalami dilema tersendiri selama masa pandemi yang tak kunjung usai ini.

Apa dampak pandemi bagi pemasaran buku?

  • Dari segi penjualannya menurun drastis selama masa pandemi
  • Akibatnya dari 1.328 ribu penerbit yang telah terdaftar di IKAPI, kini banyak yang tumbang karena tidak dapat bertahan di situasi pandemi seperti ini
Kapan dampak pandemi mulai terasa ?


Berdasarkan grafik diatas, selama bulan Januari 2020, penjualan masih bagus dan dunia buku masih berjaya, tetapi menginjak bulan Maret 2020 penjualan buku mulai mengalami penurunan drastis.

Sekitar bulan Oktober 2020 siklus penjualan mulai mengalami peningkatan kembali, walaupun pada akhirnya harus rela anjlok lagi karena PPKM dan kelesuan itu berlangsung hingga sekarang.


Bagaimana langkah yang tepat mengatasi lesu nya penjualan buku?

Perlu strategi pemasaran yang jitu dan tepat untuk mempertahankan industri penerbitan buku agar terus hidup  selama pandemi. 

Pemasaran buku sebagai ujung tombak untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia, Oleh karena itu perlu strategi untuk mendapatkan hasil penjualan yang maksimal.

Strategi yang harus kita hadapi:

  • Kita harus Mengubah strategi, setelah keluar dari zona nyaman harus berani mengubah mindset dengan mengalihkan penjualan ke dunia digital. Atau melakukan penjualan secara online.
  • Strategi Utama yang digunakan adalah digital marketing

Strategi transformasi mendasar pada bisnis penerbitan buku:

  • Terhubung dengan pelanggan lewat media sosial(FB, Instagram, Twitter)
  • Memastikan buku kita mudah ditemukan pelanggan di market place (Tokopedia, Bukalapak, shopee, dll)
  • Memasarkan buku lewat komunitas, bisa dengan cara saling sharing, saling menawarkan sesuai kebutuhan sesama komunitas dll
  • Harus proaktif setiap saat, siap melayani pelanggan dengan cepat
  • Perlu ada promo khusus, diskon dll
  • Mengadakan webinar atau event tertentu dengan menyesuaikan kondisi saat ini
  • Menjadi brand yang tanggap situasi, terutama menerapkan sikap empati, misal: pengiriman cepat, mencarikan buku yang sesuai dan melayani dengan sepenuh hati
Menurut Pak Agus Subardana, PT. Andi menggunakan strategi pemasaran sesuai pemetaan menurut jenis-jenis buku terlebih dahulu. 
Jenis-jenis buku berdasarkan kategori terdapat novel, cerita anak,dll
Memberdayakan penuh marketing online tanpa melupakan trik marketing offline

Strategi pemasaran pada umumnya di pengaruhi oleh faktor yang meliputi :
1. Faktor Mikro , yaitu perantara, pemasok, pesaing dan masyarakat.
2. Faktor Makro yaitu demografi-ekonimi, politik-hukum, teknologi-fisik dan sosial-budaya.

"Masa depan adalah milik kita, menyiapkannya dengan sebaik mungkin adalah tanggung jawab kita"

(~Risa~)


Resume ke:10

Pelatihan ke :10

Tanggal : 2 Agustus 2021

Tema : Pemasaran Buku

Narasumber: Agus Subardana, SE, M.M

Moderator : Aam Nurhasanah



Friday, 30 July 2021

Cara Mengatasi Writer's Block

Oleh : Risa Juanita Ratnaningtyas
 

Abadikan kisahmu dengan tulisan

(~Risa~)


Cuaca malam ini sedikit mendung, tak seperti biasanya. Terkadang rintik hujan membasahi bumi.

Meski begitu cuaca tak mempengaruhi suasana hatiku yang begitu antusias mengikuti materi malam ini. Bagaimana tidak, karena menurut saya materi hari ini tak kalah penting dengan materi-materi sebelumnya. 

Temanya sangat menarik, sangat bermanfaat bagi kami penulis pemula yang sering kehilangan kata di tengah jalan ketika sedang menulis.

Sepertinya tema kali ini menjawab kegundahan hati yang kerap bersarang pada penulis pemula seperti saya.

Bersama Narasumber nan cantik asal Subang, Bu Ditta Widya Utami, S.Pd.,Gr. ditemani Bu Maesaroh, M.Pd sang Blogger Millenial sebagai moderator. Dengan mengangkat tema "Mengatasi Writer's Block"

Meraih penghargaan dari Bupati Subang dan peraih penghargaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang sebagai guru berprestasi di 2021 sudah membuktikan bahwa kredibilitas beliau dalam dunia literasi patut dibanggakan.

Bukan itu saja, bahkan beliau telah menorehkan jejaknya karena karya beliau telah mampu menembus Penerbit Mayor 

Sebagai pemanasan Bu Ditta memberikan gambar salah satu tokoh wayang kulit. Dengan gambar tersebut, peserta pelatihan hanya diberi waktu 15 menit untuk menuangkan tulisan tentang wayang. Wah seru juga, cukup memacu adrenalin

Menulis berpacu dengan waktu, dapat 3 paragraf langsung kirim, lupa kalau 15 menit itu waktu yang masih lumayan lama untuk menghasilkan beberapa paragraf yang lebih produktif lagi seharusnya. Ampun, mungkin itu juga salah satu contoh Writer's blog, tidak fokus. 

Apa yang dimaksud dengan Writer's Block?


Pernahkah saat menulis, merangkai kata dengan indah tapi tiba-tiba terputus begitu saja ditengah jalan tanpa tahu apa yang akan ditulis selanjutnya? Sungguh menjengkelkan bukan?

Hal tersebut seringkali menjadi hambatan penulis pemula seperti saya. Ya, Writer's Block atau kebuntuan saat menulis. 

Bisa juga di artikan kehilangan ide atau gagasan saat menulis

Kapan Writer's Block bisa terjadi?

Writer's Block dapat terjadi saat kita tidak fokus, perhatian terpecah, frustasi juga salah satu alasan munculnya Writer's Block

Apa saja penyebab Writer's Block?

  • Mencoba topik baru bisa menjadi penyebab. Alah bisa karena biasa, kalau belum terbiasa pasti bingung dan ragu untuk mengawalinya. Biasa menulis tentang gambar buah-buahan, tiba-tiba dapat gambar wayang untuk bercerita, seketika otak terasa melambat berfikir, karena tidak ada inspirasi tentunya
  • Stres merupakan pemicu Writer's Block, karena kalau kita stress cenderung tidak fokus perhatian terpecah, buntulah tidak punya gagasan
  • Lelah fisik dan mental, kondisi lelah juga berperan penting menjadi pemicu Writer's Block
  • Terlalu perfeksionis, terkadang kita membandingkan tulisan kita dengan tulisan penulis yang sudah profesional, akhirnya karya kita mentah lagi, serasa kurang sempurna dan terkadang kita terlalu ragu akan tulisan yang kita rangkai, sudah pas atau belum tiap paragrafnya

Bagaimana Mengatasi Writer's Block?

Solusinya antara lain:

  • Teguhkan komitmen, kuatkan tekat untuk menulis
  • Mencari bahan tambahan atau literatur lainnya sebagai acua untuk mengawali menulis kemudian kita kembangkan sendiri
  • Fokus mempelajari materi atau bahan baru yang belum pernah kita ketahui.
  • Luangkan waktu untuk me-refresh diri, kita juga perlu hiburan meskipun itu hanya jalan-jalan meniup udara segar
  • Jangan lupa kita punya "Golden Time" waktu istimewa dimana saat itu kita bisa terinspirasi untuk menulis
Jangan terjebak dengan tulisan kita yang pernah populer dengan banyak komentar, sehingga menjadikan karya populer itu sebagai acuan yang endingnya malah mematikan kreativitas kita.

Writer's Block adalah kendala umum bagi penulis, teguhkah komitmen, teruslah menulis, biarkan semua mengalir sesuai alurnya. Kenali dan manfaatkan Golden Time dengan sebaik-baiknya

Ingatlah selalu...
Untuk apa kita menulis?
Apa tujuan kita menulis?
Suka duka saat menulis
Hindari stres, luangkan waktu istirahat dan jangan lupa bahagia

Mari kita hancurkan WB (Writer's Block)
Tetap semangat menulis, jangan pernah lelah untuk menulis, jadikanlah menulis sebagai passion, rutinitas kita, kesenangan kita sekaligus hiburan di kala hati gundah gulana.

"Mungkin kita tak bisa mengubah cerita masa lalu, tapi kita bisa menulis cerita indah di lembaran yang baru"
(~Risa~)



Resume ke : 9
Pertemuan ke : 9
Tanggal : Jumat, 30 Juli 2021
Tema : Mengatasi Writer's Block
Narasumber : Bu Ditta Widya Utami, S.Pd, G.r
Moderator: Bu Maesaroh, M.Pd



Buku Mahkota Penulis, Buku Muara Tulisan

 

Oleh :  Risa Juanita Ratnaningtyas

"Jika seseorang ingin melihat dunia, maka membacalah. Tapi jika ingin dikenal maka menulislah"
(IMAM SYAFI'I)

Rabu malam yang indah dan penuh energi positif, melengkapi serunya pertemuan ke -8 kali ini. 

Bersama Bapak Thamrin Dahlan, SKM, M.Si selaku narasumber dan Mr. Bams sebagai moderator

Profil Bapak H. Thamrin Dahlan 
Merupakan seorang Kombes Pol(purn) polri, Dosen Akper Polri, Penggiat literasi dan penulis yang sukses menerbitkan 40 buku

Beliau adalah owner Penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD)
Nah, YPTD juga salah satu penerbitan yang direkomendasikan di kelas belajar menulis. 

Menurut Pak Thamrin, di dunia ini ada 2 "pekerjaan peradaban" yaitu:
  • Guru atau Pengajar
  • Jurnalis atau penulis
Apakah yang dimaksud pekerjaan peradaban? 
Pekerjaan peradaban adalah pekerjaan yang dianggap mulia dan akan selalu dikenang sepanjang masa, tak lekang oleh waktu.

Guru Arsitek Peradaban
Adalah guru yang mengajar dengan hati tak semata-mata meraih materi dan memberikan contoh yang baik pada anak didik 

Menjadi pribadi yang diteladani, haruslah memberi contoh melalui sikap dan tingkah laku yang baik . Karena mendidik dengan hati akan menjadikan profesi guru sebagai jalan menggapai ridho Allah S.W.T.

Guru sebagai arsitek peradaban adalah guru yang mampu mengubah pola pikirnya untuk lebih berfikir kritis, terbuka dan terus berkembang menjadi guru yang hebat

Di era Millenial guru hebatlah yang bisa diandalkan untuk mampu memenuhi tuntutan zaman, terutama untuk peningkatan mutu pendidikan.

Ayo kita melangkah ke depan, kita Songsong perubahan untuk menjadi guru teladan bagi murid-murid

Pak Thamrin menambahkan suatu pepatah :

"Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia wafat meninggalkan nama'

Nah sekarang, dimanakah nama kita di abadikan?

Di buku nikah?
Di buku tabungan?
Di buku Yasin 
Atau pada nisan kita?
Mungkinkah kiranya nama kita tercetak dalam cover buku karya hebat kita?

Di era millenium, teknologi berkembang begitu pesat, kegiatan manusia semakin mudah dan ringan dengan adanya teknologi. Terutama kemudahan dalam menerbitkan buku.

Amat disayangkan jika tulisan kita hanya menjadi file simpanan kita saja. Selayaknya barisan aksara tersebut dirangkai menjadi buku, segera kumpulkan dan kirim ke penerbit.

Mengapa begitu?

Sebelum mengikuti pelatihan dan minimnya pengetahuan bagi kami seorang guru, menerbitkan buku prosesnya amatlah sulit dan biaya cetaknya mahal.

Lalu bagaimana solusinya?

Pak Thamrin selaku owner Penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD) mengatakan,  sejak 19 Agustus 2020 telah menerbitkan buku ber ISBN (International Standard Book Number) sebanyak 232 Judul.  Mayoritas adalah karya para pendidik.

Buku ber ISBN adalah tanda bahwa seorang manusia pernah terlahir kemuka bumi dan buku tersebut tersimpan aman dan rapi di perpustakaan nasional

Buku adalah kumpulan olahan pikir yang terserak. 
Literasi adalah kemampuan individu dalam membaca, menulis, menghitung, berbicara dan memecahkan masalah 

Sejatinya semua orang bisa menulis, setiap orang yang bisa berbicara pasti bisa menulis

Menulis adalah memindahkan apa yang ada dalam lisan menjadi sebuah kalimat bermakna.



Tiga Rahasia Jurnalistik yang ajaib:
  • Setiap tulisan memiliki roh atau tulisan hidup dengan syarat karya di promokan ke media sosial
  • Biarlah tulisan itu membela dirinya dan biarkan buku atau tulisanmu mengikuti takdirnya
  • Surprise tak terduga saat buku kita terkenal
Adapun kategori artikel antara lain:
  • Artikel Deskriptif, artikel yang muatannya sebatas menggambarkan asas 5W1H
  • Artikel Eksplanatif, adalah artikel yang menerangkan, menjelaskan dan mengupas permasalahan( skripsi,tesis,karya Ilmiah)
  • Fiksi adalah kebebasan menuangkan inspirasi dunia Maya, atau cerita khayalan
Bagaimana cara menerbitkan buku di YPTD?
Di YPTD persyaratannya tidak begitu rumit, biaya lengkap / buku Rp.50.000 selebihnya kita bisa mencetak buku sendiri. 
YPTD juga menerbitkan buku antologi, ada kurator yang mengorganisir kumpulan tulisan. Alurnya, YPTD menerima naskah lengkap, di usulkan ISBN dan selanjutnya kurator yang mendistribusikan buku. 


Resume ke :8
Pertemuan ke :8
Tanggal : Rabu, 28 Juli 2021
Judul: Buku Mahkota Penulis, Buku Muara Tulisan
Narasumber : Bapak H. Thamrin Dahlan, SKM.M.Si
Moderator : Mr. Bams


Tuesday, 27 July 2021

Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie


 Oleh : Risa Juanita Ratnaningtyas

"Menulis sejatinya adalah menuangkan intuisi melalui aksara"
( Risa )

Detik waktu memasuki kelas 7 atau pertemuan ke-7 Pelatihan Belajar Menulis PGRI bersama Om Jay.

Semua mengalir begitu saja. Pelatihan yang sarat makna dan manfaat, semoga senantiasa dirahmati nikmat sehat agar tetap fokus sampai 30 resume ke depan aamiin

Salam hangat dari Om Jay mengawali pertemuan malam ini. Bersama narasumber yang luar biasa hebat Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd dan Bunda Aam Nurhasanah sebagai moderator. 

Selayang pandang tentang Bapak Raimondus Brian, beliau adalah  Guru di SDN Sumur Batu 01 Pagi, Jakarta dan alumnus kelas Belajar Menulis Gelombang 4. 
Sebagai Sang Blogger Millenial kiprahnya tak diragukan lagi. Sebagai penggiat guru nge-blog dengan banyaknya blog yang beliau  miliki.

Gayung bersambut dengan tema kali ini "Menerbitkan Buku Semakin Mudah dengan Indie", maka sejak bulan Juli 2020 beliau membantu peserta belajar menulis yang ingin menerbitkan buku ke penerbit indie rekanan beliau. 

Apa yang dilakukan penulis pemula setelah menyelesaikan karyanya?
Jawabannya pastilah "saya bermimpi untuk menerbitkan buku". 

Pun sama dengan Pak Brian, beliau dulu sekitar tahun 2014 juga sangat ingin menerbitkan buku. Karena tidak punya mentor yang membimbing, beliau tidak tahu bagaimana dan dimana harus menerbitkan buku. 

Hingga akhirnya tulisan beliau menemukan takdirnya, di tahun 2019 tanpa sengaja menemukan hastag di Instagram tentang penerbit indie. Dari sanalah semangat kembali berkobar. 


Hingga di tahun 2020 impian beliau terwujud dengan terbitnya buku "Blog Untuk Guru Era 4.0" melalui penerbit indie.

Mengapa harus penerbit Indie?
Jika dahulu sebelum penerbit indie merajai dunia literasi, kita hanya mengenal Gramedia, Grasindo, Elex Media saja sebagai penerbit mayor atau penerbit besar. 

Sudah bukan rahasia lagi bagaimana besarnya tantangan untuk menembus penerbit mayor, dari proses seleksinya yang ketat, jumlah cetak harus banyak dll. Butuh sebuah perjuangan agar naskah kita bisa diterima oleh penerbit mayor.

Namun seiring perkembangan jaman, reputasi penerbit indie tak bisa dipandang sebelah mata. 

Promo yang menarik memikat hati penulis baru. Meskipun di penerbit indie kita harus mengeluarkan biaya cetak, namun impian menerbitkan buku semakin nyata karena di Indie tidak ada seleksi naskah. 

Naskah apapun yang kita berikan pasti akan diterbitkan. Konsekuensi biaya cetak ditanggung penulis.

Banyak berbagai promo yang ditawarkan, dan banyak sekali penerbit indie sekarang, kita sebagai penulis tinggal memilih mau menerbitkan ke salah satu dari penerbit indie tersebut.

Kelebihan penerbit indie antara lain :
  • Naskah pasti terbit
  • Proses penerbitannya mudah dan cepat.
Dalam Pelatihan Belajar Menulis ini para mentor tidak membimbing ke arah penerbitan, jadi peserta harus mandiri mencari penerbit sendiri. 

Jadi, bagi penulis pemula, Indie lah solusinya untuk menerbitkan buku. 

Intinya penulis harus paham betul berbagai ketentuan tiap penerbit indie, karena tentu penawarannya berbeda-beda. 

Penerbit Gemala merupakan penerbit yang di rekomendasikan sekaligus sebagai penerbit rekanan beliau.
Berikut ini syarat dan ketentuan penerbit Gemala:


Hanya dengan Rp.300.000 impian menerbitkan buku bisa terwujud di Gemala. Naskah maksimal 130 halaman. Jika lebih akan ada tambahan biaya cetak.
Fasilitas yang ditawarkan :
  • Desain Cover
  • ISBN
  • Layout
  • Dapat 2 buku
  • Editing ringan
  • E-sertifikat
Naskah harus diketik dengan format :
  • Ukuran kertas A5
  • Huruf Times New Roman
  • Spasi 1,5 
  • Margin 2 cm
  • Paragraf menggunakan Justify
Poster di atas ketentuan untuk cetak pertama, jika ingin cetak ulang harus tetap di penerbit gemala dengan jumlah minimal cetak 10 eksemplar.

Bagaimana urutan proses penerbitan buku:
  • Naskah menunggu antrian terbit
  • Antrian cetak dan ISBN paling cepat 1 bulan
  • Sebelum terbit, penulis diberi naskah buku format pdf, untuk di cek lagi
Naskah buku harus di lengkapi:
  • Cover yang berisi judul dan nama penulis
  • Prakata wajib ada yang ditulis oleh penulis sendiri
  • Daftar isi tanpa no. halaman
  • Profil penulis
  • Sinopsis (kurang lebih 3 paragraf, masing-masing paragraf terdiri dari 3 kalimat)
  • Kata pengantar bisa ditulis sendiri atau mentor 
Ada 2 paket promosi penerbit Gemala :
  • Paket penerbitan Rp. 300.000 dengan syarat dan ketentuan diatas
  • Paket penerbitan GRATIS dengan jumlah cetakan lebih dari 40 eksemplar, penulis hanya membayar biaya cetaknya saja dan tidak ada batasan jumlah halaman

Gemala unggul di kualitas cetakan dan cover, setting layout menarik dan tinta tidak luntur. 

Berikut ini buku Bapak Ibu guru dari seluruh Indonesia yang diterbitkan Gemala




Nah, tentukan pilihan Bapak dan Ibu dari sekarang, wujudkan mimpi menjadi nyata. 


"Menggores asa melalui aksara, melukis sejarah melalui buku"
(~Risa~)



Resume ke : 7 
Pertemuan ke :7
Tanggal : Senin, 26 Juli 2021
Tema : Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie
Narasumber: Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd
Moderator : Aam Nurhasanah








Friday, 23 July 2021

Menjadi Penulis Berprestasi? Kenapa Tidak!

 


Oleh : Risa Juanita Ratnaningtyas

"Menulis adalah sebuah keberanian"

[Pramoedya Ananta Toer]


Pepatah berkata "Buku adalah jendela dunia" dan Penulis yang baik adalah pembaca yang baik, karena menulis itu adalah jendela ilmu. 

Pelatihan Belajar Menulis PGRI bersama Om Jay tak terasa sampai di pertemuan yang ke-6 atau masuk kelas 6 istilahnya.

Materi yang diberikan semakin berbobot dan menjawab berbagai tanda tanya bagi pemula seperti saya mengikuti pelatihan membuat mood booster semakin meningkat. 

Sosok inspiratif kali ini adalah Bu Aam Nurhasanah, S.Pd beliau adalah seorang Guru pegiat literasi dengan segudang prestasi yang setia menghampiri. 

Menjadi inspirator bukan berarti tak pernah gagal. Jalan berliku pernah beliau lewati  di pelatihan bersama Om Jay di gelombang 8, karena tidak fokus dan bingung bagaimana membuat resume yang baik, akhirnya beliau tidak lulus saat itu. 

Impian ingin menjadi moderator pun kandas sudah. Tapi bukan Bu Aam namanya kalau menyerah begitu saja. 

Beliau lalu membangun kembali rasa kepercayaan diri dengan semangat membara beliau mengulang kelas di gelombang 12. 

Usaha takkan menghianati hasil, tulisan Bu Aam akhirnya menemukan takdirnya dengan lahirnya 20 buku karya beliau baik solo maupun antologi.


Dengan usaha keras, mimpi pun terwujud, mimpi menorehkan prestasi.
Prestasi yang beliau raih antara lain :
  • Juara 1 Lomba Blog PGRI pada bulan Maret 2021
  • Juara 10 besar artikel HUT AISEI

Apakah kita bisa menjadi penulis yang baik?


  • Ide adalah yang utama, ide biasanya muncul terinspirasi dari sahabat atau kerabat yang ada disekitar kita
  • Apa yang ada di benak kita ketika menulis? Pengalaman kisah hidup mereka ataukah perjuangannya hidup mereka?
  • Pesan yang ingin disampaikan

Apakah menulis menjadi prioritas dalam kehidupan kita?

Jika iya,  maka setidaknya kita harus mengalokasikan waktu, perhatian dan tenaga untuk menulis setiap hari. Kita  tidak boleh lagi menerima alasan kesibukan yang membuat tidak menulis. 

Mengapa kita harus menulis setiap hari? 

Karena menulis adalah prioritas. Dengan demikian, menulis termasuk salah satu hal yang membuat kita sibuk.

Seperti halnya Bu Aam selaku narasumber, dengan prioritas seperti ini akan lebih mudah menghantarkan kita menapaki anak tangga menuju sukses. Semua memerlukan proses.
Tidak bisa instan begitu saja. Dengan usaha dan do'a inshaAllah tulisan kita menemukan takdirnya.

Bagaimana Prosesnya? 
Tak ada perjuangan tanpa proses, intinya adalah bahwa kita harus :
# Semangat
  • Mengumpulkan ingatan
  • Menentukan tokoh dan karakternya
  • Membuat Outline atau daftar isi
#Lebih Semangat Lagi
  • Menulis apa yang ada dalam dalam pikiran
  • Diawali dengan kalimat bijak atau motivasi
  • From Zero to zero

Dalam menulis setiap penulis mempunyai tujuan dan misi yang berbeda. Ada yang menulis untuk menuangkan isi hati biar plong tak ada beban, ada juga yang menulis agar tidak lupa pada materi tertentu, ada juga yang berdakwah. 

Semua mempunyai niat masing-masing. Maka dari itu passion tiap-tiap penulis pun berbeda.


Saat keberanian menulis sudah muncul, tapi tulisan melebar kemana-mana tak menemukan ujungnya? 
Outline solusinya!
Outline sama dengan daftar isi, yang memberi kita rambu-rambu poin yang akan kita tulis.

Berikut ini langkah-langkah membuat Outline menurut Bu Aam:



Menulis adalah sebuah keberanian...[Pramoedya Ananta Toer]


Mengawali jejak langkah mengukir sejarah kita bisa dengan menulis buku antologi, buku yang ditulis bersama-sama atau buku keroyokan. Buku bersama yang terbingkai dalam satu cover.




Bismillah...
Semoga kita bisa mengawali jejak melalui buku
Semoga kita bisa mengukir sejarah melalui buku
Buku adalah jendela dunia
Semoga kita bisa menjadi bagian sejarah literasi 
Aamiin...




Resume ke : 6
Pertemuan ke:6
Tanggal: Jumat, 23 Juli 2021
Judul : Menulis Membuatku Naik Kelas dan Berprestasi
Narasumber : Bu Aam Nurhasanah, M.Pd
Moderator : Bu Maesaroh, M.Pd









Wednesday, 21 July 2021

Mengenal Penerbit Indie


 Oleh : Risa Juanita Ratnaningtyas


"Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak".
 [Ali bin Abi Thalib]


Ingin menerbitkan buku sendiri, bingung harus dimana dan bagaimana caranya ? 
Menerbitkan buku merupakan impian terbesar bagi penulis pemula seperti saya.

Tapi sayangnya kita tidak tahu dimana dan bagaimana caranya supaya bisa mengukir sejarah dengan buku.
Hingga akhirnya dipertemuan ke-5 Pelatihan Belajar Menulis PGRI bersama Om Jay mengupas tuntas bagaimana cara menerbitkan buku.

Kelas Online malam ini menjawab segala pertanyaan yang menggelayut dalam benak. 

Pernah mendengar istilah penerbit mayor, penerbit indie tapi belum tahu perbedaannya apa. 

Materi pada pertemuan ke-5 ini disampaikan oleh Narasumber Mukminin S.Pd.,M.Pd 

Selain berprofesi sebagai guru di SMP 1 Kedung Pring Lamongan, beliau merupakan owner atau penerbit buku Kamila Press Lamongan.

Menjadi penulis sejak berusia 55 tahun tak menyurutkan semangat beliau untuk berkarya, baik berupa buku solo maupun buku antologi 




Pada dasarnya semua orang bisa menulis, di era Millenial ini tidaklah sulit untuk mencari berbagai aplikasi untuk menuangkan fikiran dalam tulisan. 

Seperti kata Om Jay, kumpulkan tulisan dalam blog sebelum nantinya dikumpulkan menjadi buku.

Banyak kisah atau pengalaman inspiratif seorang guru,Dosen, mahasiswa yang bisa dibagikan melalui tulisan yang mungkin bermanfaat untuk khalayak. 


"Menulis itu mudah, hanya memerlukan ketekunan dan perjuangan" ujar beliau.

Setelah tekun menulis, butuh keberanian untuk menerbitkan buku. 
Ada 5 tahapan yang harus kita lalui sebelum menerbitkan buku, diantaranya adalah : 
  1. Prawriting, mencari ide atau bahan yang akan ditulis, penulis harus kreatif, dan harus banyak membaca buku
  2. Drafting, mulai menulis naskah sesuai passion(cerpen, puisi, artikel, novel) sekreatif mungkin dalam merangkai kata untuk menarik minat pembaca tentunya.
  3. Revisi, memperbaiki tulisan yang perlu diperbaiki, bila perlu menambah bila perlu ditambah susunan katanya, atau ada kata atau kalimat yang harus dibuang. Kalimat dibetulkan sesuai EBBI
  4. Editing, memperbaiki kesalahan penulisan dan tanda baca. Editing sama dengan "swasunting", menyunting tulisan sendiri sebelum naskah sampai di penerbit 
  5. Publikasi yaitu tahap penerbitan buku

Apakah sudah mempunyai pandangan penerbit yang akan menerbitkan buku kita?

Sebelum menerbitkan buku, kita harus kenal/melek dulu tentang penerbit.
Penerbit buku ada 2 macam, yaitu penerbit mayor dan penerbit indie, lantas apa perbedaannya? mari simak ulasan berikut ini:
#Penerbit Mayor 
  • Jumlah cetakan, mencetak buku secara masal, kisaran 3000 atau minimal 1000 eksemplar untuk dijual di toko buku.
  • Pemilihan naskah yang diterbitkan. Sebelum dicetak, naskah harus melewati beberapa prosedur, sampai benar-benar dianggap layak untuk terbit, naskah harus mengikuti selera pasar.
  • Profesionalitas, karena di dukung SDM yang memadai penerbit mayor sangat profesional dalam menerbitkan buku
  • Waktu penerbitan, diterima atau tidaknya naskah, dikonfirmasi sekitar 1-3 bulan. Harus sesuai giliran karena penerbit mayor merupakan perusahaan besar banyak alur kerja yang harus dilalui.
  • Royalti penulis maksimal 10% dari total penjualan, dan akan dikirim 3-6 bulan setelah penjualan buku.
  • Biaya penerbitan "GRATIS", itulah alasannya kenapa penerbit mayor tidak serta merta menerbitkan buku, karena kalau buku tidak laku, kerugian sepenuhnya ada pada penerbit
#Penerbit Indie

  • Jumlah cetakan, hanya mencetak buku apabila ada pesanan atau POD ( print of demand) atau cetak berkala. Di promosikan melalui media online semacam Facebook, Instagram, twitter, WA dll. 
  • Pemilihan naskah yang diterbitkan, penerbit indie tidak pernah menolak naskah, selama naskah tersebut tidak melanggar undang-undang, hak cipta sendiri bukan plagiasi, tidak mengandung unsur SARA dan pornografi.
  • Profesionalitas, sebenarnya profesional juga, tapi kita harus jeli memilih penerbit, pastikan kualitas kertasnya bagus bukan yang asal-asalan, kadang murah, cover kurang bagus. Mutu dan manajemen bisa menjadi ukuran untuk menilai bagus tidaknya perusahaan penerbit indie tersebut.
  • Waktu penerbitan, memproses naskah dengan cepat hanya dalam hitungan minggu. Tidak banyak persyaratan dalam menerbitkan buku
  • Royalti penulis, 15-20% dari harga buku. Dijual penulis melalui jejaring sosial.
  • Biaya penerbitan, berbayar sesuai dengan ketentuan masing-masing penerbit. Tiap perusahaan penerbit indie tidak sama tergantung dari kualitas kertas yang digunakan.
Kebetulan di grup WA belajar menulis bersama Om Jay ada 3 penerbit indie
  • Oase
  • Gemala
  • UPTD
  • Kamila Press Lamongan
Bapak Mukminin atau yang akrab disapa Cak Inin selaku owner Kamila Press Lamongan, merekomendasikan perusahaan penerbit indie beliau sebagai langkah awal untuk menerbitkan buku.

Berikut ini rincian biaya cetak buku  TERBARU ( TERJANGKAU) di KAMILA PRESS LAMONGAN,  hub. hp/wa Mukminin, 081330944498, 

Biaya Cetak buku  A5, kertas "Bookpapar (coklat halus)", 
termasuk biaya ISBN, Layuot, edit, cover buku: 

A. 60 halaman: 

#  Cetak 5 buku/ eksp. =  566.000
# Cetak 10 buku/ eksp. =  632.000, 
plus ongkir

B. 70 hlm:  

#  Cetak 5 buku = 570.000
# Cetak 10 buku = 650.000,
. Plus Ongkir

C. 85 hlm : 

 # Cetak 5 buku = 580.000
# Cetak 10 buku = 
660.000

D. 90 hlm:

# Cetak 5 buku = 600.000
# Cetak 10 Buku = 715.000

E. 100 hlm: 

# Cetak 5 buku = 635.000
# Cetak 10.Buku = 725.000

F. 125 hlm: 

# Cetak 5 buku = 650.000
# Cetak 10 buku = 751.000

G. 150 hlm= 

# Cetak 5 buku = 665.000
# Cetak 10 buku = 800.000

H. 200 hlm: 

# 5 buku = 695.000
# 10 buku = 841.000

I. 250 hlm:

# Cetak 5 buku = 725.000
# Cetak 10 buku = 900.000

J. 300 hlm:

# Cetak 5 buku = 753.000
# Cetak 10 buku = 957.000

#  SETELAH CETAK 10 BUKU DENGAN JUMLAH HALAMAN DAN HARGA TERSEBUT, 

Lebihnya dihitung harga cetak ulang :

1.  Cetak buku 60 hlm 
Harga @ 20.000
2. Cetak buku 70-75  hlm harga  @21.000
3. Cetak buku 100 hlm. Harga @ 23.500
4. Cetak buku 140 hlm harga @ 27.000
5. Cetak buku 150 hlm @ 30.000
6. Cetak buku   250 hlm. Harga @ 40.000
7. Cetak buku  300 hlm. Harga @  45.000

✓Ketik  A5 ukurannya 14,8 x 21 cm
✓Spasi 1,15 
✓Ukuran font 11  
✓Margin kanan 2 cm, kiri 2 cm, atas 2 cm dan bawah 2 cm. 
✓Gunakan huruf arial, calibri atau  Cambria 
✓Masukkan dalam 1 file kirim ke WA  atau email gusmukminin@gmail.com

Nah, tunggu apa lagi? Mari wujudkan mimpi kita sebagai penulis dan menerbitkan buku. 




"Tiada terlambat untuk menulis dan terbitkan buku. Tulislah segera apa yang Anda suka, Anda dengar, Anda Lihat, Anda baca,  dan  Anda rasakan untuk berbagi kebaikan". 

( Cak Inin 2020).


Resume ke : 5
Pertemuan ke : 5
Gelombang :19
Tanggal : Rabu, 21 Juli 2021
Judul : Mengenal Penerbit Indie
Narasumber : Mukminin, S.Pd.,M.Pd 
Moderator : Mr. Bams



Monday, 19 July 2021

Jurus Jitu Merubah Karya Ilmiah Menjadi Buku

 


Oleh : Risa Juanita Ratnaningtyas

"Menulis adalah sebuah keberanian..."

[Pramoedya Ananta Toer]


Selasa, 19 Juli 2021 adalah pertemuan ke-4 ku dalam mengikuti Pelatihan Belajar Menulis PGRI bersama Bapak Wijaya Kusuma atau yang akrab disapa Om Jay sang Blogger Millenial daring melalui grup WA belajar menulis.

Pertemuan kali ini diiringi suara takbir yang menggema di langit malam, tanda menyambut hari raya Idul Adha 1442 Hijriah yang jatuh pada hari Selasa, 20 Juli 2021.

Sama dengan tahun sebelumnya, Idul Adha kali ini juga masih dalam suasan pandemi. Hanya bisa berdo'a semoga pandemi segera berlalu aamiin Ya Robbal alamiin.

Pertemuan dibuka oleh Bu Aam Nurhasanah selaku moderator. Materi disampaikan oleh Bu Noralia Purwa Yunita, M.Pd dengan tema "Menulis Buku dari Karya Ilmiah".

Narasumber  adalah seorang pengajar di SMP Negeri 8 Semarang yang merupakan lulusan Magister di Universitas Negeri Semarang. 

Beliau sangat aktif diberbagai komunitas, diantaranya : 

  • Blogger di Komunitas Sejuta Guru Ngeblog (KSGN)
  • Anggota Komunitas Koordinator Virtual Indonesia (KKVI)
  • Anggota MGMP Prakarya dan IPA
  • Pembimbing ekstrakurikuler KIR SMP
Tidak kalah hebat dengan narasumber lainnya di pelatihan ini. Beliau juga mempunyai sederet prestasi dan karya berupa buku baik solo maupun antologi yang menghiasi perjalanan karir beliau dalam menyelami dunia literasi, yang patut diperhitungkan, masyaAllah.

Buku beliau tembus ke penerbit mayor PT. Andi Offset.

Materi dimulai dengan pertanyaan, apa itu karya ilmiah?
Definisi karya ilmiah versi Bu Noralia dapat digambarkan sebagai berikut :
  • Bagi pejuang S1 disebut dengan skripsi
  • Bagi pejuang gelar Magister atau S2 disebut dengan tesis
  • Bagi guru, wajib membuat PTK untuk memenuhi kenaikan pangkat atau angka kredit.
Dari berbagai definisi diatas menggambarkan seolah -olah manfaat karya ilmiah hanya sebatas memenuhi tuntutan / tujuan tertentu semata. 

Setelah tujuan tuntutan/tujuan terpenuhi, lulus, mendapat gelar, angka kredit sudah diperoleh, tak jarang KTI hanya menghiasi rak perpustakaan dan tersimpan di laci nyaris tak tersentuh.

Ibarat pepatah "habis manis sepah dibuang". Padahal jika kita ingat, perjuangan untuk membuat sangatlah rumit, menguras waktu, tenaga dan pikiran serta materi pastinya. Sangat disayangkan jika penelitian yang kita buat bertahun-tahun tergeletak begitu saja bagai barang tak berguna. 
Relakah? tentu tidak!

Bagaimana agar karya ilmiah menjadi berarti?
Menurut Bu Noralia, solusinya adalah "mengubahnya menjadi BUKU".

Kenapa harus buku?
Karena buku mengandung banyak manfaat untuk diri sendiri dan khalayak ramai. Manfaat karya ilmiah versi buku antara lain :

1. Dapat dibaca oleh masyarakat awam

2. Dapat diperjualbelikan

3. Bagi ASN bisa untuk menambah poin angka kredit

4. Dengan buku kita bisa menjadi terkenal

5. Ilmu dapat sampai di khalayak ramai dengan BUKU

Bagaimana cara mengubah PTK atau karya ilmiah menjadi buku?


Yaitu mengubah judul PTK menjadi judul buku yang kekinian. 
PTK versi buku hanya fokus pada objek penelitian. Jadi materi, subjek dan tempat penelitian harus dihilangkan.
Contoh : 

Judul skripsi : 
Pengembangan modul berbasis riset pada materi reaksi redoks untuk meningkatkan keterampilan generik sains siswa kelas 9 SMP 

Judul KTI versi buku berubah menjadi :
Kiat menulis modul berbasis riset

Jangan lupa tambahkan kata pemikat, Kiat, Jurus, strategi dan kata menarik lainnya.


Poin penting No.2 : 
  • Ubah bab 1 (pendahuluan) karya ilmiah menjadi "Bab 1 buku"
  • Hapus rumusan masalah, definisi operasional dan manfaat penelitian
  • Masukkan permasalahan pembelajaran secara umum, alasan penggunaan media atau metode pada pembelajaran.

Dari gambar diatas, bab 2 dan bab selanjutnya di buku bisa kita ambil dari pengembangan teori bab II karya ilmiah / KTI.
Contoh : 

Pada KTI
2.1 Media pembelajaran 

Pada buku bisa kita ubah menjadi
Bab 2 Media Pembelajaran
2.1 Pengertian media
2.2 Jenis Media
2.3 Manfaat Media

Luar biasa bukan? Hanya dari 1 bab KTI saja kita dapat mengubah menjadi beberapa bab dalam buku. 


Bab 5 diangkat dari bab hasil penelitian dan pembahasan. 
Poin-poin penting yang harus dikerjakan antara lain :
  • Awali dengan kata pengantar pada bab ini, serta uraian hasil penelitian
  • Hilangkan semua kata penelitian dan laporan
  • Menampilkan grafik secukupnya, selebihnya wakili dengan tulisan
5. Tata bahasa dan penyajian versi buku harus berbeda dengan karya ilmiah
Dalam versi buku, penulis diberi kebebasan menggunakan tata bahasa, ide dan kreatifitas. 

6. Meyakinkan pembaca dengan memberikan ulasan sebagai bukti kita telah mengadakan penelitian

7. Menampilkan daftar pustaka yang digunakan sebagai acuan dalam membuat penelitian sebelumnya 

8. Versi buku setidaknya memuat minimal 70 halaman format A5 dengan format margin sesuai ketentuan penerbit.

Kesimpulannya mengubah menjadi buku tidak semata-mata hanya mengganti judul atau covernya saja yang berarti memplagiasi karya kita sendiri

Banyak sekali manfaat yang kita dapat dari pelatihan malam ini. Sekaligus narasumber mengingatkan betapa pentingnya karya kita jika bisa bermanfaat bagi sesama.

Dari yang awalnya hanya dibaca dosen penguji, akhirnya bisa dibaca masyarakat ketika sudah menjadi buku.

Dari yang hanya terpajang di rak perpustakaan tidak mustahil akan terpajang di toko buku ternama

Dari yang hanya tersimpan rapi di lemari bisa sampai ke berbagai daerah melalui buku.

"Sesuatu akan terlihat tidak mungkin sampai semuanya selesai"
[Nelson Mandela]



Resume ke : 4
Pertemuan ke :4
Judul : Menulis Buku dari Karya Ilmiah
Tanggal : Senin, 19 Juli 2021
Narasumber : Noralia Purwa Yunita, M.Pd
Moderator : Aam Nurhasanah





















Saturday, 17 July 2021

Membongkar Rahasia Menulis Hingga Menerbitkan Buku

 


Oleh : Risa Juanita Ratnaningtyas


"Katak melompat burung terbang. Walaupun jarak kita jauh, kita bisa belajar bersama di dunia Maya tanpa saling berpandang"

[Om Jay]


Hari ini, Jumat 16 Juli 2021 sampailah pada pertemuan yang ke -3  Pelatihan Belajar Menulis PGRI melalui daring via grup WA.

Kusiapkan secarik kertas, pulpen, tak lupa secangkir teh hangat untuk menemani pelatihan malam ini.

Om Jay sang guru blogger  yang mengawali membuka acara pelatihan malam ini. Beliau menyampaikan bahwa jarak yang jauh bukanlah kendala untuk bisa belajar bersama.

Pelatihan ini di pandu oleh Pak Bambang Purwanto dari Bandung atau yang akrab disapa Mr. Bams sebagai moderator .

Materi disampaikan oleh  Bu Rita Wati, S.Kom  sang Blogger Millenial dengan tema "Membongkar Rahasia Menulis Hingga Menerbitkan Buku".

Beliau adalah guru mata pelajaran informatika di SMP Negeri 2 Mendoyo Kabupaten Jembrana-Bali. Bu Rita Wati adalah sosok yang inspiratif. Banyak hal beliau lalui sebelum akhirnya menjadi penulis hebat di era millineal seperti sekarang. 

Keinginan beliau menjadi seorang penulis terinspirasi dari salah seorang sahabatnya yang menjadi penulis dan berhasil menerbitkan buku ketika menjadi mahasiswi disebuah Perguruan Tinggi. 

Tapi beliau tidak tahu, mau menulis apa dan bagaimana cara memulai menulis yang baik. Mencoba belajar dengan mengikuti kelas menulis, apapun yang terlintas dipikiran dituangkan dalam tulisan.

Tak terasa bisa menghasilkan beberapa cerpen dan novel walaupun semua file pada akhirnya masih tersimpan di hidden file dan merasa tidak bakat menjadi penulis.

Hingga takdir mempertemukan beliau dengan kelas menulis yang diprakarsai oleh Om Jay sang guru blogger Indonesia. Disana kemampuan beliau diasah. 

Diajarkan bagaimana menulis yang baik dan menerbitkannya menjadi sebuah buku. Dari ilmu yang didapat beliau akhirnya banyak menerbitkan 4 buku solo, 1 buku duet dan 10 buku antologi. Sangat inspiratif sekali. 

Kisah awal beliau sedikit banyak sama denganku, punya kisah hidup, punya cerita sama dengan insan yang lain tapi sulit atau bahkan tidak percaya diri untuk menuangkan dalam tulisan. Bagaimana dan kapan harus memulai cerita. 

Berikut ini adalah buku-buku hasil karya beliau yang sangat menginspirasi:


Karir dalam pelatihan semakin berkembang mulai menjadi kurator, editor, moderator dan narasumber.

Beliau juga mengelola 4 blog yang berbeda sekaligus seorang youtuber. YouTube Bu Rita lebih mengarah ke konten IT, karena beliau mengampu mata pelajaran informatika. 

Berikut ini saya bagikan link channel Bu Rita barangkali bermanfaat untuk pembaca blog Bunda: 

1.  *Fungsi Logika If dlm Ms.Excel* 

https://youtu.be/8BCltpp4cqU

2. *Membuat Sertifikat Masal dgn Mailmerge*

https://youtu.be/vvnA6s_QX4A

3. *Cara menyambungkan WA dari jarak jauh*

https://youtu.be/W4ZUP42Pcoc

4. *Fungsi Absolut dalam Ms. Excel*

https://youtu.be/Q7cFp4iB-yQ

5. *Cara Membuat Blog*

https://youtu.be/2ZFZzT8iWV8

6. *Cara memasukan gambar, link hidup, dan youtube dalam blog*

https://youtu.be/iGlVrcRUdn0https://youtu.be/iGlVrcRUdn0

7. *Cara merubah template blog pribadi menjadi tampilan profesional*

https://youtu.be/iGlVrcRUdn0

8. *Cara membuat page border, Dropcap dan mengatur kertas di ms.word*

https://youtu.be/1aOmxKNugyI

9. *Cara Membuat running text di blog*

https://youtu.be/1IszU8Kh0fE

10. *Cara menggunakan wheel of names*

https://youtu.be/aEDCRbE3PJI

11. *Cara membuat daftar menu di blog*

https://youtu.be/AZ0nF17Jt34

12. *Mengetik Cepat Menggunakan Suara*

https://youtu.be/TY-RV1M0sxI

Hebatnya lagi, semenjak bergabung di Kelas Belajar Menulis buku-bukunya mendapat komentar dan apresiasi dari pembaca




Selang beberapa menit kemudian Bu Rita memulai materi diawali dengan memberi pertanyaan "apa sih tujuan Bapak/Ibu menulis?" , Angan melayang jauh membayangkan sambil menjawab "ingin memiliki buku sendiri".


Apa tujuan kita menulis?

  • Hanya sekedar ingin belajar karena mulai banyak orang yang menjadi penulis?
  • Terpaksa, karena untuk urusan naik pangkat?
  • Hobi dan meningkatkan prestice
  • Sebagai tambahan penghasilan, karena di era millenial ini banyak sekali kita temukan berbagai aplikasi membaca sekaligus kita berperan sebagai penulis disana dan dibayar tentunya.
Pada dasarnya, ke empat tujuan tersebut sama-sama baik. Semua kembali ketujuan kita masing-masing. Untuk apa kita menulis.


Menulis di bidang kesehatan juga dipercaya : 
  • Meredakan stres, bagi ibu rumah tangga atau ibu bekerja menulis merupakan hiburan di sela - sela aktifitas yang menumpuk.
  • Memecahkan masalah dengan lebih baik, cenderung bisa berfikir jernih karena terbiasa ber-ekspresi dengan tulisan
  • Menuangkan perasaan sesuai keinginan yang bisa kita tulis kapannsaja dimana saja
  • Memperbaiki suasana hati, menulis bisa memperbaiki suasan hati karena dengan hobi yang kita tuangkan dalam tulisan kita bebas ber-ekspresi.
  • Meningkatkan daya ingat.

Slide diatas adalah beberapa manfaat menulis menurut para ahli, diantaranya adalah meningkatkan kecerdasan, mengembangkan daya inisiatif dan kreativitas, menumbuhkan keberanian  dan mendorong kemauan serta kemampuan mengumpulkan informasi.

Bagaimana cara agar kita bisa menulis? 

Bu Rita menjabarkan dan memberikan slide tentang 6 komponen rahasia menulis, tidak banyak memang hanya 6 komponen rahasia menulis yang harus kita kuasai. 

  • Yang pertama adalah menguasai diri sendiri
  • Memperbanyak membaca buku
  • Membiasakan menulis setiap hari
  • Membuat peta konsep agar naskah tidak melebar kemana-mana.
Tapi ternyata kenyataan tak seindah ekspektasi, untuk penulis pemula seperti saya, ibaratkan bunga masih kuncup, masih minim pengetahuan. Sepertinya ada saja permasalahan yang membuat tulisan tidak lekas jadi atau bahkan tidak jadi sama sekali.



Permasalahan mulai dari susah ide, miskin kosa kata, dalam hati ada cerita tapi sulit merangkai kata, saat cuci piring dalam hati muncul ide kalimat eh setelah selesai lupa rangkaian kata yang indah tadi akibat menunda-nunda tentunya.  

Saat passion sedang tinggi tapi bingung mau menulis apa, sudah menulispun kadang malu atau tidak percaya diri tulisan kita dibaca orang lain dan berbagai permasalahan internal lainnya. 

Lalu bagaimana solusinya?


Menurut Bu Rita selaku narasumber, kuncinya hanya satu yaitu "membaca".
Dengan membaca bisa muncul ide atau gagasan, sekaligus memperkaya kosa kata dan perbendaharaan kata kita.


Mengapa harus menulis di blog? Karena di blog, karya kita terpublish tanpa takut ditolak dan dibaca oleh khalayak ramai, dari blog pula tulisan yang kita tulis bisa berlembar-berlembar naskah yang bisa dicetak atau diterbitkan menjadi sebuah buku.

Dengan belajar bersama, apa, mengapa, bagaimana, kapan dan dimana bisa terjawab. 

"Hidup lah seolah engkau mati besokBelajar lah seolah engkau hidup selamanya."


Resume ke : 3
Pertemuan ke : 3
Gelombang : 19
Tanggal : 16 Juli 2021
Tema :Trik Cepat Menulis Resume di Blog
Narasumber : Rita Wati, S.Kom

Moderator : Bambang Purwanto/Mr. Bams